Rifan Financindo Berjangka – 5 Kesalahan Beriklan Online Yang Bikin Rugi Bandar

5 Kesalahan Beriklan Online Yang Bikin Rugi Bandar – Rifan Financindo Berjangka

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG – Mungkin kamu pernah merasa terganggu dengan iklan yang tiba-tiba muncul. Kamu berharap bisa menghilangkan iklan tersebut yang terus-terusan ada. Buat kamu yang punya usaha, hal ini adalah contoh adanya kesalahan dari cara beriklan yang harus dihindari.

Berdasarkan konferensi pers virtual ‘Tren Perilaku Penjualan E-Commerce Tahun 2021 di Indonesia’, Kamis (19/8/2021), yang membahas survei Trade Desk bersama YouGov dengan lebih dari 2.000 responden di Indonesia, ada penjelasan tentang hal-hal yang bisa diperbaiki dalam beriklan supaya iklan tidak lagi membosankan dan bikin rugi. Cek di bawah ini.

1. Tidak tahu tujuan dari iklannya

Florencia Eka, Country Manager Indonesia Trade Desk mengatakan bahwa hal pertama yang diperlukan adalah mengetahui tujuan dari beriklan. Apakah iklan diharapkan untuk menambah awareness brand atau untuk membangun engagement dengan konsumen? Semua harus diperhatikan sehingga hasil iklan lebih bermanfaat.

2. Beriklan pada media sosial saja

“Ternyata dari data terlihat beriklan di social media saja itu artinya melewatkan kesempatan yang besar di internet yang juga bisa dijangkau,” terangnya.

Ada yang disebut dengan ‘open internet’ di mana berisi CTV/OTT (contoh: viu, vidio, iflix) sampai platform berisi video (misalnya dailymotion), audio (contoh Spotify dan Joox), Display (contoh: detikcom), hingga Native (contoh: Freakout). Ini adalah wadah yang bisa dipakai untuk beriklan juga dan potensial.

3. Tidak tahu konten yang menarik

Dari hasil riset, ditemukan juga konten-konten iklan yang disukai atau diharapkan bisa menarik minat pembelanja yakni sebagai berikut:

1. Konten yang membuat orang tertawa (59%)
2. Real-life atau sesuai dengan keseharian (52%)
3. Jingle atau lagu yang mudah diingat (44%)
4. Kartun atau animasi (34%)
5. Artis atau influencers (32%)
6. Tarian (8%)
7. Lainnya (1%)

4. Salah strategi dan kurang aktif

“Ciptakan brand recall untuk mereka yang impulsif sehingga mereka bisa ingat brand kita akan sangat baik. Jadikan brand sebagai top of mind (yang paling diingat) buat mereka yang yang tipe ‘planner’ sehingga kalau membeli mereka ingatnya produk ini,” tuturnya.

Caranya? Kembali lagi pada awal, sesuaikan iklan dengan tujuan yang ingin dicapai.

5. Terlalu sering beriklan

Atau justru karena kamu terlalu sering beriklan? Waduh. Ini yang harus diperhatikan juga, detikers. Kalau di perusahaan besar seperti Trade Desk, sudah ada automation analysis yang bisa memperlihatkan kurva ketika engagement menurun (target iklan mulai bosan). Bagi UMKM, kamu mungkin bisa mulai mempelajari waktu terbaik untuk memasarkan iklan. Kalau untuk perusahaan besar, tak ada salahnya meminta bantuan jasa perusahaan yang memang bergerak di bidang tersebut – RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : detik.net

Rifan Bandung