Bertaruh nyawa demi rupiah

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Tidak ada pilihan lagi bagi warga kampung Panyarang, Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Mata pencaharian sebagai penambang galian Loji, tambang karst merupakan pekerjaan utama. Banyak lelaki di kampung itu memilih mencari nafkah dengan menambang bahan pembuat batako.

Padahal bukit yang mejadi area galian selalu memakan korban. Karena banyak suami di kampung itu yang meninggal, kemudian dikenal dengan Kampung Janda. Kondisi perekonomian di kampung itu memang memprihatinkan. Warga kampung itu terpaksa bertaruh nyawa demi memenuhi isi perut.

Upahnya pun tak sebanding dengan nyawa. Perhari para penambang itu hanya dibayar Rp 35 ribu. Taruhan buat mendapatkan uang itu nyawa. Longsor bisa tiba-tiba saja menghampiri mereka disaat penambang melakukan pekerjaannya.

Hanya bermodalkan tali dan pahat, para pria kampung Panyarang melakukan aktivitas penambangan. “Penambang di sini manual enggak pake alat, ya saya akui memang bahayanya. Enggak ada peralatannya,” kata ketua RT 07/ RW 07, Desa Ciburayut, Kampung Panyarang Tengah, Muhammad Endang Iskandar ketika ditemui merdeka.com, Senin lalu.

Endang menambahkan biasanya perhari bayaran diterima para penambang tidak menentu. Bisa berkisar Rp 35 ribu sampai Rp 100 ribu. “Walaupun cuma dibayar 35rb-100rb itu pun bukan sehari tergantung hasil yang mereka bawa ke tengkulak,” ujarnya.

Area tersebut dimiliki oleh warga yang memang menguasai lahan tersebut. Sudah berkali-kali aparat dan pemerintah setempat melarang untuk tidak melakukan penambangan di area itu. Namun warga tetap tak bergeming, mereka tetap mempertahankan lahan itu sebagai mata pencaharian sehari-hari.

“Kalau urusan perut lain urusan, saya sudah melarang warga sini, karena sudah memakan korban tapi tetap saja ini adalah mata pencaharian satu-satunya,” kata Endang.

Konon, menurut Endang, akibat banyaknya warga khusus kaum pria yang bekerja sebagai penambang menjadi korban tewas di area tersebut, semakin banyak para istri harus menjanda. “Iya memang kebanyakan para suami meninggal akibat tertimpa longsor tapi ada juga yang meninggal karena sakit dan juga jadi janda karena cerai,” katanya.

Endang menceritakan di kampungnya, para perempuan yang ditinggal suaminya karena menjadi korban longsoran tambang karst rata-rata memiliki banyak keturunan. “Kalau di sini iya, para janda yang ditinggal karena kejadian longsor tertimbun memiliki banyak anak. Paling banyak waktu itu satu janda punya enam orang anak. Tahun terakhir 3-4 orang anak satu janda,” tutur Endang.

“Kalau di sini ada 6 KK (kepala keluarga) yang menjadi korban longsoran tahun lalu. Tahun kemarin ada 1 korban,” kata Endang. Memang, lanjut Endang bukit yang menjadi area tambang itu sangat berbahaya bagi para pekerja tambang. Apalagi mereka melakukan penambangan dengan alat tradisional. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

 

sumber : merdeka.com

IT RFB BDG