Cerita Mbah Gotho, hidup untuk menanti ajal

PT RIFAN FINANCINDO – Cerita Mbah Gotho, hidup untuk menanti ajal

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Mbah Gotho lahir tahun 1870 silam, berarti usianya lebih dari 145 tahun. Dia mengaku tak lagi punya harapan atau impian pada kehidupan di dunia. Dia hanya ingin segera menemukan kematian dengan tenteram.

“Saya ini hanya tinggal menunggu mati. Menjadi orang itu harus sabar dan narimo (menerima apa adanya),” katanya.

Saat dilahirkan, Mbah Gontho bernama Saparman, baru setelah menikah sesuai tradisi masyarakat Jawa saat itu, dia berganti nama menjadi Sodimejo. Nama Gotho di kalangan pedesaan bermakna sebagai seseorang yang selalu bersemangat dan cenderung menggunakan otot ketika berjalan atau bertindak.

Si mbah tinggal di sebuah rumah sederhana di Dukuh Segeran, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Meski sudah renta, Mbah Gotho masih terlihat cukup sehat, meski badannya membungkuk dan lebih banyak duduk. Bicaranya masih lancar, dia juga masih jadi perokok.

“Saya ini lahir di hari Kamis Wage, bulan Sapar, makanya orang tua saya memberi nama Saparman,” ujarnya.

Mbah Gotho merupakan anak kedua dari sebelas bersaudara. Dia dilahirkan dari pasangan Setrodikromo dan Saliyem. Sepanjang hidupnya Mbah Gotho telah menikah dengan empat orang wanita.

Yang pertama dia menikahi saudara sepupunya sendiri, namun gagal di tengah jalan. Pernikahannya yang terakhir dengan Rayem yang membuahkan tiga orang anak. Mbah Gotho dikaruniai 12 cucu, 17 cicit dan 2 canggah. Sedangkan istrinya Rayem, yang usainya terpaut jauh dengannya, sudah wafat tahun 1997 lalu.

“Saya sudah menikah empat kali, anak saya lima, tapi yang dua meninggal saat masih anak-anak, cucu saya banyak. Tapi istri saya ada yang cerai ada yang meninggal. Tiga anak saya yang hidup hingga dewasa semua dari istri terakhir. Dari tiga itu, sekarang yang dua sudah meninggal juga. Semua saudara saya juga sudah lama meninggal, tinggal saya saja. Saya menuruni simbah saya yang juga panjang umur,” ucapnya.

Saat ini, Mbah Gotho tinggal di rumah milik salah satu cucunya bernama Suryanto yang juga warga Cemeng. Meski kesehatannya mulai berkurang, namun untuk usia setua Mbah Gotho tergolong luar biasa. Setahun terakhir dia terlihat semakin sulit berjalan, lebih banyak menghabiskan waktu duduk di ruang tengah rumah cucunya itu sembari menikmati sebatang demi sebatang rokok yang disediakan cucunya.

“Simbah tidak pernah menderita sakit serius. Dulu ikut emak saya, tapi setelah emak wafat, beliau ikut saya,” tuturnya.

Suryanto menjelaskan, meskipun terus merokok, Mbah Gotho juga tidak pernah diserang batuk. Bahkan tidak ada satupun jenis makanan yang dihindarinya. Semua makanan yang disediakan oleh cucunya, akan disantapnya dengan senang hati.

Kepala Desa Cemeng Sriyanto (54) tak bisa memastikan kebenaran usia Mbah Gotho. Namun yang dia ingat, sejak dirinya masih sangat kecil, ia sudah mendapati Mbah Gotho sebagai seorang kakek.

“Dari saya kecil beliau ya sudah sangat tua, rambutnya putih semua, tapi tubuhnya tetap tegak berotot, tinggi dan gemuk,” katanya.

Sriyanto menambahkan, meskipun Mbah Gotho lahir di desa tersebut, namun data kependudukan yang mencatat kelahiran Mbah Gotho sudah tak lagi bisa ditemukan. Dia hanya berpegangan pada dokumen berupa Kartu Keluarga dan KTP yang dimiliki oleh Mbah Gotho yang mencatat bahwa lelaki renta itu dilahirkan pada tanggal 31 Desember 1870. Sriyanto yakin bahwa usia Mbah Gotho sudah jauh melewati seabad.

“Ada warga kami almarhum Mbah Dipo, sudah meninggal sekitar 5 tahun lalu, usianya 112 tahun. Beliau bilang bahwa Mbah Gotho itu lebih tua. Saat Mbah Dipo masih anak-anak, Mbah Gotho sudah usia menikah,” tandasnya.

sumber : merdeka.com

IT RFB BDG