RIFAN FINANCINDO – Menilik 20 Tahun Perjalanan Stasiun Luar

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Menilik 20 Tahun Perjalanan Stasiun Luar Angkasa

RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Tepat hari ini, Selasa (20/11/2018), Stasiun Luar Angkasa Internasional ( ISS) genap berusia 20 tahun sejak pondasi awal pertama kali diluncurkan ke luar angkasa. ISS lebih dari sekadar prestasi membanggakan di bidang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. ISS merupakan suatu contoh langka dari kehebatan kerja sama dan kolaborasi tim. Di tanggal ini pada 1998, para ilmuwan kedirgantaraan dari AS dan Rusia meluncurkan unit Zarya di Komdorom Baikonur, Kazakhstan. Zarya yang berarti fajar dalam bahasa Indonesia merupakan modul yang pertama dari ISS. Tepat pukul 11.40 siang waktu setempat, Zarya yang berfungsi sebagai fondasi program eksplorasi luar angkasa Internasional diberangkatkan.

Awalnya ISS direncanakan sebagai sebuah “Stasiun Angkasa Freedom” NASA dan dipromosikan oleh Presiden Ronald Wilson Reagan (Presiden AS ke-40). Namun karena anggaran terlalu mahal, pembuatannya ditunda. Setelah Perang Dingin berakhir, proyek itu dijalankan kembali dan menjadi proyek gabungan antara NASA dan Rusia. Hal ini diperlukan untuk penekanan anggaran dan agar visi Presiden Reagan cepat terwujud. Setelah Zarya mengorbit, kerjasama antara Rusia-AS terus terjalin, termasuk saat tiga orang (satu astronot dan dua kosmonot) dari perwakilan badan masing-masing mengangkasa. Mereka adalah astronot Bill Sheper, kosmonot Yuri Gidzenko, dan kosmonot Sergei Krikalev. Ketiganya tiba di ISS pada 2 November 2000. Pada saat itu, ISS tidak mengitari Bumi setiap 90 menit. Namun, selama dua dekade berikutnya, badan antariksa yang berbasis di 15 negara termasuk Jepang, Kanada, Perancis, Jerman, dan Spanyol, mengubah pegas luar angkasa menjadi raksasa modular dengan 15 komponen bertekanan. Semakin bertambahnya umur, ISS pun semakin “tumbuh”. ISS tumbuh hampir seukuran lapangan sepak bola dengan adanya penambahan robot di kanadarm2 Kanada dan Modul Laboratorium Kibo milik Jepang. Semakin luas dan semakin mungkin tumbuh, makin banyak sekali awak yang singgah ke ISS. Menurut NASA, ada 230 orang dari 18 negara yang pernah berkunjung ke ISS. Terlepas dari kejayaannya, biaya perawatan ISS menjadi sumber pertikaian. Bagaimana tidak, ISS memiliki tagihan sekitar 100 sampai 150 miliar dollar As. Banyak yang berpendapat, uang yang sangat banyak itu sebenarnya dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi Bumi. Meski begitu, penelitian ambisius ini berhasil memberi kita banyak pengetahuan. Salah satunya, mengamati bagaimana zat dan senyawa berbeda, seperti sel, jaringan, dan cairan, bereaksi ketika dibebaskan dari gravitasi Bumi.

Seperti dilansir Time, Selasa (20/11/2018), banyak penelitian telah melihat respons tubuh manusia terhadap ruang angkasa yang berdurasi panjang, hal penting yang harus dipahami jika kita ingin melakukan perjalanan 500 hari dari dan ke Mars. Tak dipungkiri, ISS merupakan kolaborasi penelitian ilmiah terbesar yang dilakukan dengan damai dalam sejarah umat manusia, tentu saja hal ini menuai banyak pujian.

sumber : sains.kompas.com

IT RFB BDG