RIFAN FINANCINDO | Harga minyak dunia turun

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO | Harga minyak dunia turun

RIFAN FINANCINDO BANDUNG | Harga minyak dunia tercatat turun pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Penurunan harga terjadi ketika pasar keuangan merosot di tengah kekhawatiran bahwa rencana Washington untuk mengenakan tarif impor dapat memicu perang perdagangan, dan juga setelah data pemerintah menunjukkan peningkatan dalam persediaan dan produksi minyak mentah.

Amerika Serikat (AS) dan China saat ini tengah bersitegang akibat rencana Presiden AS Donald Trump menerapkan bea masuk untuk produk baja dari berbagai negara, salah satunya China. Kebijakan ini dinilai akan mematikan daya saing baja China di pasar AS.

Bahkan China siap membalas dengan kebijakan yang sama untuk beberapa produk AS yang selama ini ada di pasar China. Sampai saat ini rencana kebijakan ini masih tarik ulur dan belum menunjukkan kepastian. Namun, banyak negara di dunia yang merespons rencana perang dagang antara China dan AS. Salah satunya Indonesia.

Patokan internasional, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei turun USD 1,45 atau 2,20 persen menjadi ditutup pada USD 64,34 per barel di London ICE Futures Exchange. Brent diperdagangkan antara USD 63,83 hingga USD 65,80 selama sesi berlangsung.

Sementara itu, patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, turun USD 1,45 menjadi menetap di USD 61,15 per barel di New York Mercantile Exchange. WTI turun 2,3 persen, persentase kerugian terbesar sejak 9 Februari, dan diperdagangkan antara USD 60,58 hingga USD 62,58 per barel.

Pengunduran diri Gary Cohn, penasehat ekonomi Presiden AS Donald Trump, yang dipandang sebagai benteng pertahanan terhadap kekuatan proteksionis di pemerintah, memicu penurunan tiga indeks saham utama Wall Street dan memperlemah selera risiko (risk appetite) para investor. Minyak baru-baru ini telah bergerak seiring dengan pasar ekuitas.

Pengunduran diri Cohn terjadi setelah dia kalah dalam pertarungan atas rencana Trump untuk pengenaan tarif impor yang besar pada baja dan aluminium.

Kekuatan utama, termasuk Uni Eropa dan Tiongkok, mengatakan bahwa tarif semacam itu dapat menyebabkan tindakan balas dendam dan memicu perang dagang global.

“Kecemasan pasar secara umum atas apa yang akhirnya bisa menjadi perang dagang global menyeret semuanya,” kata John Kilduff, partner manajer investasi Again Capital di New York.

“Itu bukan pertanda baik bagi pertumbuhan ekonomi masa depan dan meningkatnya permintaan energi,” tambahnya.

Kenaikan lebih lanjut pada produksi AS juga membebani harga. Data mingguan dari Departemen Energi AS menunjukkan produksi minyak mentah mingguan AS mencapai rekor tertinggi pekan lalu, hampir 10,4 juta barel per hari.

“Kami memiliki jumlah rig yang sedikit datar dan mulai bangkit lagi tahun ini dari perspektif minyak, jadi Anda akan terus melihat produksi minyak di AS cukup kuat untuk jangka waktu lama,” kata Rob. Thummel, manajer portofolio pada investasi energi Tortoise Capital di Leawood, Kansas.

Produksi minyak mentah AS mencapai rekor tertinggi hampir 10,4 juta barel per hari (bph) pekan lalu, menurut Badan Informasi Energi (EIA) pada Rabu (7/3).

EIA mengatakan bahwa mereka memperkirakan produksi minyak mentah AS pada kuartal keempat 2018 mencapai rata-rata 11,17 juta barel per hari dari perkiraan sebelumnya sebulan lalu sebesar 11,04 juta barel per hari.

Ini akan menjadikan AS produsen yang lebih besar daripada Rusia, yang sekarang berada di peringkat pertama. Tahun lalu, AS melampaui Arab Saudi, produsen terbesar di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Harga minyak sempat mengurangi kerugian pada Rabu (7/3) setelah data dariEIA mengatakan persediaan minyak mentah AS naik sebesar 2,4 juta barel pada pekan lalu, dibandingkan dengan ekspektasi analis untuk kenaikan 2,7 juta barel.

Stok minyak mentah di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma, turun 605.000 barel, kata EIA, penurunan mingguan ke-11 berturut-turut.

IT RFB BDG