MA Loloskan Penggelar Nobar Piala Dunia di Tempat Umum

RIFAN FINANCINDO – MA Loloskan Penggelar Nobar Piala Dunia di Tempat Umum

RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Mahkamah Agung (MA) meloloskan New Metro Hotel dari gugatan Rp 32 miliar. Hotel di Semarang itu digugat pemegang hak siar Piala Dunia 2014 karena membuat acara nontob bareng (nobar) Piala Dunia Brasil di kafenya.

Gugatan dilayangkan PT Inter Sport Marketing sebagai pemegang eksklusif tayangan Piala Dunia di seluruh Indonesia. PT Inter Sport juga mempunyai kerjasama khusus langsung dengan FIFA dan hak siar itu sudah didaftarkan ke Kemenkum HAM.

PT Inter Sport kemudian memonitoring Piala Dunia 2014 di Semarang dan menemukan nobar di kafe New Metro Hotel. Setiap pengujung yang hendak menonton dimintai yang Rp 50 ribu. Selidik punya selidik, New Metro Hotel belum meminta izin menggelar nobar tersebut sehingag PT Inter Sport melayangkan gugatan ke Pengadilan Niaga pada Negeri Semarang.

Besaran nilai gugatan yaitu kerugian materil 3,2 miliar dan kerugian immateril Rp 30 miliar. Kerugian immateril karena PT Inter Sport merasa nama baiknya tercoreng di dunia internasional.

Gayung bersambut. Pada 11 Juni 2015 PN Semarang mengabulkan gugatan PT Inter Sport dan menjatuhkan denda Rp 60 juta ke New Metro Hotel. Atas putusan itu, New Metro Hotel keberatan dan mengajukan kasasi dan gayung bersambut.

“Mengadili membatalkan putusan PN Semarang. Mengadili sendiri, menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya,” putus majelis sebagaimana dilansir website Mahkamah Agung (MA), Jumat (9/9/2016).

Majelis berpendapat bahwa sesuai fakta persidangan, New Metro Hotel menggelar nobar di coffe shop miliknya dan menyediakan siaran final Piala Dunia dari lembaga penyaiaran swasta tidak berbayar yaitu AnTV dan TvOne.

“Sehingga objek gugatan bukan mengenai hak cipta tetapi hak terkait dengan hak cipta,” ujar majelis yang diketuai hakim agung Syamsul Maarif dengan anggota hakim agung I Gusti Agung Sumanatha dan hakim agung Abdurrachman.

Hal itu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 9 UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Oleh karenanya, untuk menilai ada atau tidak adanya pelanggaran terhadap hak terkait dengan hak cipta tersebut, maka seharusnya penggugat menarik ANTV dan TvOne. Sehingga gugatan penggugat tidak sempurna. Karena itu sudah seharusnya dinyatakan tidak diterima.

“kegiatan nobar dan penyediaan siaran final Piala Dunia dalam perkara a quo disediakan untuk tamu hotel dari saluran lembaga penyiaran tidak berbayar sehingga tindakan itu bukan merupakan perbuatan melawan hukum. Oleh karena itu gugatan penggugat harus ditolak,” putus majelis pada 30 September 2015.

Nasib di atas berbeda dengan yang dialami Alila Villa Soori Hotel Bali. Ia tetap dihukum membayar ganti rugi Rp 100 juta kepada PT Inter Sport Marketing karena menyiarkan Piala Dunia 2014 ke kamar-kamar melalui saluran tv berbayar, tapi hal itu tanpa izin ke PT Inter Sport.

Di kasus serupa, MA juga menghukum Sun Star Motor Semarang sebesar Rp 500 juta. Sebab di lokasi nobar, Sun Star Motor memasang berbagai spanduk di berbagai titik sehingga seolah-olah Mitsubishi adalah sponsor resmi Piala Dunia yang digelar di Brasil.

IT RFB BDG