RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – IHSG Diprediksi Bergerak di Zona

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – IHSG Diprediksi Bergerak di Zona

RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Volatilitas yang terjadi pada nilai tukar rupiah dan harga komoditas diprediksi membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan saham, Rabu ini (25/7/2018). Laporan kinerja emiten sepanjang semester I 2018 juga memberi warna pada pola gerak IHSG.

Analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Suryawijaya meramalkan, IHSG bakal terkoreksi pada pergerakan indeks.

Namun, potensi kenaikan IHSG masih besar di tengah volatilitas nilai tukar terhadap USD. “IHSG merosot di 5.721-5.988,” jelas dia.

Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi memprediksi IHSG akan bergerak di zona merah di kisaran 5.873-5.960.

Meski nilai tukar sempat alami pelemahan sebesar 0,2 persen hari ini, investor asing tercatat lakukan pembelian bersih (nett buy) Rp 288,35 miliar.

Sementara itu, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada meramalkan IHSG dapat bertahan di atas support 5.905-5.913 dan resisten diharapkan dapat menyentuh kisaran 5.948-5.953.

Ia menilai, penguatan IHSG masih ditopang meningkatnya volume beli dengan memanfaatkan sentimen pergerakan bursa saham kawasan yang menguat.
Berikut 10 saham pilihan:

Analis William mencermati saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan juga PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR).

Sedangkan Analis Lanjar memilih saham Bank Danamon Tbk (BDMN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Penutupan Kemarin

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada perdagangan saham Selasa pekan ini. Penguatan IHSG terjadi meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di kisaran 14.523.

Pada penutupan perdagangan saham, Selasa (24/7/2018), IHSG menguat 16,04 poin atau 0,27 persen ke posisi 5.931,84.Indeks saham LQ45 mendaki 0,23 persen ke posisi 939,14. Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.

Sebanyak 203 saham menguat, sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sementara itu, 155 saham melemah, sehingga tahan penguatan IHSG. Adapun 136 saham diam di tempat.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagagan saham 362.730 kali dengan volume perdagangan 10,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,4 triliun.

Investor asing beli saham Rp 392,46 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat di kisaran Rp 14.523.

Sebagian besar sektor saham mendaki, kecuali sektor saham pertanian melemah 0,40 persen, sektor saham aneka industri susut 0,32 persen, sektor saham barang konsumsi susut 0,15 persen dan sektor saham infrastruktur tergelincir 0,10 persen.

Sementara itu, sektor saham industri dasar naik 1,23 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham konstruksi menguat 0,64 persen dan sektor saham keuangan menanjak 0,55 persen.

Saham-saham yang catatkan penguatan antara lain saham MBSS naik 25 persen ke posisi Rp 725 per saham, saham TIRA melonjak 22,22 persen ke posisi Rp 165 per saham, dan saham PTRO menanjak 15,67 persen ke posisi Rp 1.735 per saham.

Sedangkan saham-saham yang merosot antara lain saham AKPI susut 24,75 persen ke posisi Rp 745 per saham, saham TRUK merosot 22,33 persen ke posisi Rp 334 per saham, dan saham ASJT turun 20 persen ke posisi Rp 280 per saham.

Bursa saham Asia pun bervariasi. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 1,44 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,48 persen.

Selanjutnya, indeks saham Jepang Nikkei menguat 0,51 persen, indeks saham Shanghai mendaki 1,61 persen, dan indeks saham Taiwan menguat 0,44 persen. Sedangkan indeks saham Thailand melemah 0,08 persen dan indeks saham Singapura turun 0,10 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, IHSG menguat tidak signifikan dibandingkan perdagangan Senin 23 Juli 2018. IHSG menguat 43,01 poin ke posisi 5.915 pada perdagangan Senin kemarin. Nafan menilai, hal itu lebih didorong depresiasi rupiah terhadap dolar AS.

“Yang terpenting adalah stabilitas fundamental makro ekonomi dalam negeri masih terjaga dengan efektif sehingga terdapat beberapa emiten mengalami hasil yang positif pada kinerja laporan keuangan kuartal II 2018,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

sumber : bisnis.liputan6.com

IT RFB BDG