PT RIFAN FINANCINDO – Cerita perjuangan anak penjual

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO – Cerita perjuangan anak penjual angkringan hingga menjadi lulusan terbaik UMY

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Berasal dari keluarga yang kurang mampu tak membuat Nurasih, patah semangat mendapatkan pendidikan layak. Justru keterbatasan yang dimilikinya mampu mengantarkan Nurasih menjadi wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Ditemui di rumahnya kawasan Ngijon RT 03 RW 15, Kelurahan Sendangarum, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, DIY, perempuan berusia 24 tahun ini menceritakan perjuangannya tersebut. Nurasih mengaku sempat tidak diterima di universitas negeri selepas lulus dari SMK Negeri 7 Yogyakarta.

Niatnya melanjutkan studi urung dilakukannya dengan pertimbangan biaya di universitas swasta, yang mahal. Setelah sempat bingung, Nurasih pun kemudian diberi nasehat oleh salah seorang gurunya untuk tetap berkuliah. Sebab, saat ini banyak beasiswa yang diberikan pemerintah bagi warga yang tidak mampu.

Berbekal nasihat dari gurunya itu, Nurasih pun mencari-cari jalan untuk mendapatkan beasiswa. Nurasih pun akhirnya memilih untuk melanjutkan studinya di UMY dengan mengambil jurusan akutansi.

“Kebetulan saya waktu diterima lewat jalur Bidik Misi di UMY. Jadi semua biaya kuliah ditanggung. Kalau suruh bayar sendiri mungkin tidak mampu karena ibu saya orang tua tunggal sedangkan ayah saya sudah sejak kecil tidak pernah ketemu,” ujar perempuan kelahiran 22 Agustus 1994 ini.

Nurasih menuturkan untuk membesarkan dan membiayainya beserta seorang kakaknya ibunya yang bernama Sujeti rela untuk membanting tulang. Sejak Nurasih duduk di bangku SD, Ibu Sujeti setiap harinya membuat nasi kucing yang nantinya disetorkan ke warung angkringan tak jauh dari rumahnya.

“Jadi ibu saya setiap hari membuat nasi kucing dan gorengan. Nanti nasi kucing sama gorengannya diantarkan ke penjual angkringan di dekat rumah. Sehari pendapatan ibu bisa mencapai Rp 30 ribu,” ujar Nurasih.

Meskipun mendapatkan beasiswa Bidik Misi di UMY, tak membuat Nurasih bisa berleha-leha. Selain kuliah, Nurasih pun menyambi bekerja di sebuah biro perjalanan di kawasan Maguwoharjo. Jika kuliah di pagi hari, Nurasih sorenya akan bekerja. Sedangkan jika kuliahnya sore hari maka Nurasih akan masuk kerja pada pagi hari.

“Ya sejak semester 1 saya bekerja. Kadang agak kesusahan juga membagi waktu antara kuliah dengan kerja. Apalagi kalau pas ada tugas atau mau ujian. Jadinya sering ngelembur untuk belajar atau garap tugasnya. Uang dari kerja saya pakai untuk biaya hidup. Selama saya kuliah saya sudah tidak minta uang ke ibu. Sebagian uang dari saya kerja justru saya berikan ke ibu saya,” ungkap Nurasih.

Hasil kerja keras Nurasih pun tak sia-sia. Di tanggal 21 Oktober yang lalu, akhirnya Nurasih pun diwisuda. Mengantongi IPK 3.94 dan masa studi selama 3 tahun 11 bulan, saat wisuda Nurasih pun berhak menggunakan selempang putih bertuliskan ‘terbaik’.

sumber : merdeka.com

IT RFB BDG