0

PT RIFAN FINANCINDO – Harga Minyak Menggeliat, Saudi Buka

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO – Harga Minyak Menggeliat, Saudi Buka

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Harga minyak sempat anjlok pada hari Jumat lalu, karena lambatnya pemulihan aktivitas pabrik-pabrik pengilangan di AS pasca Badai Harvey. Namun demikian, pasar kembali menggeliat Senin pagi ini (11/September), setelah merebak kabar bahwa Menteri Energi Arab Saudi, Khalid Al-Falih, melakukan negosiasi perpanjangan periode kesepakatan pemangkasan output minyak bumi dengan Venezuela dan Kazakhstan.

Saat berita dirilis pagi ini, WTI diperdagangkan di $47.85, dan Brent telah merangkak naik ke $54.00 per barel. Namun, penghujung perdagangan hari Jumat lalu menjadi masa-masa kelabu bagi pasar minyak. Di New York Mercantile Exchange (NYMEX), kontrak minyak bumi berjangka (WTI) untuk pengiriman bulan Oktober jatuh lebih dari 3% ke $47.48 per barel, sedangkan di Intercontinental Exchange (ICE) London, Brent ambrol 1.34% ke $53.76 per barel.

Musim Badai Belum Berlalu

Saat ini sudah dua pekan berlalu seusai Badai Harvey memporakporandakan pesisir Texas dan melumpuhkan jantung industri migas Amerika Serikat. Akan tetapi, permintaan (demand) akan minyak masih terdistorsi akibat lambatnya pemulihan aktivitas pabrik-pabrik pengilangan. Situasi diperparah oleh tiga badai susulan yang menghantam AS. Yang terburuk, Badai Irma, menerjang Florida pada hari Minggu dan belum berhenti hingga hari ini.

Walaupun, para analis menilai bahwa kondisi ini hanya sementara saja. “Sebagian besar pengilangan sudah aktif kembali dan kami mengekspektasikan pemulihan nyaris sepenuhnya per akhir bulan ini,” ujar bank investasi Jefferies, pada Reuters.

Pada gilirannya, jatuhnya harga minyak bumi membebani aktivitas pengeboran. Menurut laporan pekanan terbaru dari Baker Hughes, jumlah sumur pengeboran minyak (oil drilling rigs) aktif di AS turun sebanyak 3 ke angka total 756, minggu lalu.

OPEC Buka Opsi Perpanjangan Pakta Pemangkasan Output

Kukuhnya harga minyak di level rendah, nampaknya membuat negara-negara OPEC gerah. Meski sebelumnya menegaskan bahwa kesepakatan pemangkasan output hingga Maret 2018 sudah cukup memadai untuk mendongkrak harga, tetapi pagi ini dikabarkan bahwa Menteri Energi Arab Saudi, Khalid Al-Falih, melakukan negosiasi perpanjangan hingga Juni 2018, menjelang rapat OPEC berikutnya di bulan November 2017.

“Kedua negara setuju bahwa pilihan untuk memperpanjang upaya penyeimbangan pasar kembali secara sukarela, hingga lebih dari kuartal pertama 2018, akan dipertimbangkan sesuai dengan fundamental pasar,” demikian diungkapkan dalam pernyataan Kementrian Energi Saudi mengenai pertemuan antara Al-Falih dengan Menteri Energi Kazakhstan Kanat Bozumbayev. Diskusi Al-Falih dengan Menteri Energi Venezuela, Eulogio Del Pino, pun membuahkan hasil serupa.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa OPEC dan sejumlah negara produsen minyak lainnya, termasuk Rusia, telah setuju mengurangi output sebanyak 1.8 juta barel per hari (bph) hingga Maret 2018 guna menyusutkan inventori minyak global dan mendongkrak harga. Namun, meski kesepakatan itu berhasil melonjakkan harga minyak ke $58 per barel di bulan Januari, tetapi kini sudah melorot lagi ke kisaran $50-$54 per barel. Inventori minyak global (jumlah minyak bumi yang sudah ditambang tetapi belum diolah dan disimpan di tanki-tanki penyimpanan) pun masih berada di level tinggi.

sumber : seputarforex.com

IT RFB BDG

Leave a Reply