PT RIFAN FINANCINDO | NZD/USD Perpanjang Bearish Dua Hari

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO |  NZD/USD Perpanjang Bearish Dua Hari Berturut-Turut

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG | NZD/USD memperpanjang momentum bearish-nya dua hari berturut-turut hingga sesi perdagangan Kamis (31/Agustus) pagi ini. Pair tersebut diperdagangkan pada kisaran 0.7171 saat berita ini ditulis, gagal mempertahankan pemulihan di atas level 0.72 yang terbentuk pada sesi sebelumnya.

Tambahan penurunan Dolar New Zealand tersebut terjadi menyusul laporan mengenai angka Kepercayaan Bisnis New Zealand yang dilaporkan oleh Bank ANZ hari ini. Untuk bulan Agustus, kepercayaan bisnis sedikit menurun, tetapi optimismenya masih melebihi pesimisme.

Sebanyak 18.3 persen perusahaan yang disurvei oleh ANZ mengekspektasikan kondisi bisnis secara umum akan meningkat pada tahun depan. Persentase itu lebih kecil daripada 19.4 persen yang tercapai pada bulan Agustus. Dalam penyesuaian musiman, Kepercayaan Bisnis New Zealand masih naik tiga poin ke angka 30 persen.

“Kami masih melihat angka yang sehat untuk kepercayaan bisnis, ekspektasi aktivitas, investasi, dan ketenagakerjaan di seluruh sektor dan wilayah,” kata Kepala Ekonm Bank ANZ, Cameron Bagrie.

Ekstensi Bearish NZD Karena Bullish USD

Kendati laporan ekonomi dari New Zealand tak terlalu buruk, NZD/USD masih menambah penurunannya sehubungan dengan tambahan penguatan yang diperoleh Dolar AS. Mata uang AS tersebut kian perkasa setelah GDP Second Estimate AS menunjukkan pertumbuhan sebesar 3.0 persen (estimasi 2.7 persen) yang lebih baik dibandingkan kenaikan 2.6 persen pada estimasi pertamanya.

Sementara itu, tekanan turun yang dialami oleh Kiwi kemarin disebabkan oleh jawboning dari Gubernur RBNZ, Graeme Wheeler, yang dalam pidato perpisahannya (farewell speech) untuk mengakhiri jabtan sebagai gubernur bank sentral, menyebutkan bahwa Dolar New Zealand masih perlu melemah lagi demi mendorong inflasi dan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi.

Badai Harvey Berlanjut, Terjang Harga Minyak Dan Ekonomi AS

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

Harga minyak kembali ambruk pada sesi perdagangan Kamis pagi ini (31/Agustus) karena Badai Harvey yang berkepanjangan mengakibatkan pabrik-pabrik pengilangan terbesar Amerika Serikat ditutup sejak awal pekan. Di sisi lain, penurunan stok minyak bumi dalam data US Energy Information Agency (EIA), gagal mendongkrak harga.

Harvey Diprediksi Turunkan Demand Minyak Bumi

Badai Harvey telah menerjang jantung industri migas AS di Texas sejak hari Jumat pekan lalu, dan jatuh sebagai angin topan kategori 3 pada hari Minggu. Setelah itu, hujan yang tak kunjung berhenti telah menenggelamkan berbagai wilayah hingga hari ini. Reuters memperkirakan, kapasitas pengilangan AS menyusut setidaknya 4.4 juta barel per hari (bph), atau nyaris seperempat dari total.

Penutupan pabrik-pabrik pengilangan tersebut mengakibatkan harga kontrak berjangka Gasoline AS (RBc1) naik ke atas level tinggi dua tahun di angka $1.935 per galon. Akan tetapi, harga minyak bumi justru tumbang dengan West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan turun 0.3% ke $45.84 per barel dari harga penutupan sebelumnya, dan Brent melorot 0.4% ke $50.67 per barel.

Masalahnya, pabrik-pabrik pengilangan yang tutup tersebut merupakan konsumen terbesar minyak bumi di AS, sehingga penutupannya diekspektasikan akan mengakibatkan penurunan demand atas crude oil.

Sementara itu, data dari US EIA yang dipublikasikan tadi malam, menunjukkan stok minyak bumi komersil menurun sebanyak 5.39 juta barel pekan lalu, ke angka total 457.77 juta barel. Ini artinya, muatan tanki-tanki penyimpanan telah berkurang 14.5% dari rekor level tinggi yang tercapai pada bulan Maret lalu. Akan tetapi, data ini diambil dari survey sebelum terjadinya Badai Harvey.

Angin Topan Dengan Dampak Finansial Terbesar

Para Ahli Meteorologi memperkirakan Badai Harvey bisa menjadi angin topan dengan dampak finansial terburuk dalam sejarah Amerika Serikat. Menurut Presiden AccuWeather, Joel N. Myers, “Dampak ekonominya, setelah kehancuran total terjadi, akan mendekati 160 milyar Dolar AS.”

Estimasi lain yang lebih konservatif meletakkan perkiraan kerugian finansial di kisaran 100 milyar Dolar AS. Pasalnya, walaupun Badai Harvey sudah mulai melemah, tetapi banjir yang kini menggenangi Texas bagian Timur dan Louisiana bagian Barat, diperkirakan masih akan berlanjut. Bahkan, menurut estimasi AccuWeather, “Banjir terburuk dari Harvey belum tiba, karena (permukaan) sungai-sungai dan rawa-rawa (masih) terus meningkat, sehingga tanggul-tanggul tambahan berada dalam risiko jebol.”

sumber : seputarforex.com

IT RFB BDG