PT RIFAN FINANCINDO – ‘Pengabdi Setan': Horor Berkelas nan

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO – ‘Pengabdi Setan': Horor Berkelas nan Mencekam dari Joko Anwar

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Film dibuka dengan sebuah adegan pemakaman. Seorang ibu bernama Mawarti dikebumikan dalam kain kafan putih, ritual pemakaman secara Islam diperlihatkan. Jenazah diletakkan di sisi kanan dalam kubur menghadap kiblat, lantas ditutup dengan papan kayu dengan sudut miring, baru kemudian seluruhnya dikubur rapat-rapat dengan tanah.

Ayat suci Al Quran terdengar lantang dibacakan sepanjang adegan berlangsung. Sampai di sini, apakah Anda sudah merasa takut atau sedikit merinding?

Kematian Mawarti meninggalkan kegalauan bagi Tommy, kakaknya — Rita, dan ayahnya — Pak Munarto. Pada malam pertama sepeninggalan Mawarti dikebumikan, Tommy didatangi hantu yang menyerupai sosok ibunya itu, mengunjunginya lewat jendela kamar. Esoknya hidup Tommy tak tenang, ia pun lantas pergi ke dukun guna meminta pertolongan.

Sang dukun mengatakan kepada Tommy bahwa keluarganya berada dalam bahaya besar. Sejurus kemudian sang Dukun datang ke rumah Tommy dan memperkenalkan dirinya sebagai Darmina, pembantu rumah tangga barunya. Tommy tak menyadari bahwa Darmina adalah sang dukun yang tempo hari ia datangi.

Nah, dua paragraf di atas tadi merupakan secuplik garis besar jalan cerita film ‘Pengabdi Setan’ karya sutradara legendaris Sisworo Gautama yang edar pada tahun 1980. Catatan saya mengenai film tersebut dalam satu kalimat kira-kira begini: ‘Pengabdi Setan’ (1980) adalah film horor yang terlihat murahan, didukung cerita klise, sedikit menakutkan, namun cukup menyenangkan untuk ditonton.

Pada masanya mungkin ini salah satu film terseram, namun bila ditonton kembali dengan standar kekinian, mengatakan ‘Pengabdi Setan’ versi lama sebagai film horor terbaik rasa-rasanya terlalu berlebihan.

Lantas bagaimana dengan ‘Pengabdi Setan’ versi buat ulang karya sutradara ternama Joko Anwar?

Begini. Secara keseluruhan, Joko yang juga bertindak sebagai penulis naskah, cukup setia pada elemen-elemen utama film pendahulunya, namun berhasil menjadikannya film yang terasa baru sama sekali. Dan, sekaligus membuat film ‘Pengabdi Setan’ versi lama menjadi layak untuk dilupakan keberadaannya.

Menonton ‘Pengabdi Setan’ versi lama, saya tidak dapat memahami bagaimana Mawarti dapat dibangkitkan dari kubur, mengapa Tommy dihantui, untuk apa dan atas alasan apa, hingga kini persoalan itu masih menjadi misteri. Dalam adegan pembuka dimana adegan pemakaman Mawarti berlangsung, kita melihat Darmina berdiri di antara kerumunan para pelayat. Mengapa ia di sana, dan tak seorang pun mengenalnya, hingga film tuntas kita tak diberikan jawaban berarti.

‘Pengabdi Setan’ versi baru dibangun dengan landasan yang kokoh, yakni naskah ceritanya yang ditulis dengan cermat, dan tentu saja eksekusi dari sutradara sendiri. Plot hadir dengan dukungan latar yang meyakinkan, hampir setiap karakter di film bertindak atas motivasi tertentu, disertai alasan-alasan serta konsekuensi yang membuat cerita terus bergerak, rancak dari awal hingga akhir.

Mawarti, dalam film versi buat ulang ini, menjelma menjadi Mawarni (dimainkan oleh Ayu Laksmi, ‘Soekarno: Indonesia Merdeka’). Tak seperti versi lama, Mawarni tidak langsung mati di awal film. Dikisahkan ia menderita sakit menahun tanpa diketahui penyebabnya. Saban hari Mawarni hanya tiduran di kamarnya, ditemani sebuah lonceng yang akan ia bunyikan manakala ia butuh pertolongan seperti misalnya ketika sedang haus butuh diambilkan segelas air, atau ketika sedang ingin rambutnya untuk disisiri. Setiap kali lonceng berbunyi adalah panggilan bagi anak-anaknya.

Rini (Tara Basro, ‘A Copy of My Mind’) adalah anak tertua, diikuti Toni (Endy Arfian, ‘The Perfect House’), Bondi (Nasar Anuz), dan si bungsu Ian (Adhiyat Abdulkhadir). Ada juga Bapak (diperankan aktor asal Malaysia Bront Palarae, ‘Ola Bola’). Mereka tinggal di rumah nenek di pedesaan yang letaknya berdekatan sekali dengan areal pekuburan. Mengapa mereka mau tinggal di sana? — Anda bertanya, sebab mereka sudah kehabisan uang demi mengobati ibu hingga rumah mereka terjual. Lihat, latar belakang cerita dipikirkan dengan matang, bukan?

Tak lama ibu pun mati. Bapak harus meninggalkan rumah demi mencari uang. Saat itulah, sepeninggal ibu, Rini dan adik-adiknya dihantui, diganggu oleh setan. Namun, perihal mengapa mereka diganggu, film ini tentu saja punya jawabannya.

Joko lihai meramu plot, lantas memberikan mitologi baru ke dalam cerita, membuat ‘Pengabdi Setan’ ciptaannya ini tak berakhir sebagai film horor dengan sempalan religi penuh khotbah seperti versi lawas, di tangan Joko film ini berhasil menjadi horor yang mendebarkan dan di saat yang bersamaan menawarkan cerita yang betul-betul menghargai intelegensia penontonnya — satu hal penting yang selalu gagal diberikan oleh kebanyakan sineas lain, terutama sineas “spesialis pembuat horor” kita.

Dalam film versi lawas, Tommy, Rita dan ayahnya diganggu setan dengan alasan sesederhana bahwa mereka tidak menjalankan perintah agama. Dalam versi buat ulang ini, setan memiliki agendanya tersendiri, bukan sebatas ingin mengganggu manusia yang tidak beriman. Di film ini bahkan karakter ustad bisa mati terbunuh di tangan setan!

Padahal, dalam sejarah panjang film horor nasional, karakter ustad biasanya diceritakan sebagai karakter pahlawan yang sediakala memerangi kebatilan, dan sudah pasti menang bila menghadapi setan, dengan catatan sang ustad faseh membacakan ayat Kursi.

Anda tak mesti menonton terlebih dahulu film ‘Pengabdi Setan’ versi lama untuk dapat memahami film versi buat ulangnya ini. Tetapi, bagi Anda yang pernah menyaksikannya, sedikit banyak Anda akan menemukan referensi-referensi yang dibuat Joko, pemilihan nama-nama karakter tentu yang paling kentara, tetapi masih ada hal-hal lain yang bersifat trivia yang menyenangkan untuk diketahui.

sumber : hot.detik.com

IT RFB BDG