RIFAN FINANCINDO – Aneh tapi Nyata, Kepiting Kelapa Raksasa

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO Aneh tapi Nyata, Kepiting Kelapa Raksasa Serang dan Makan Burung

RIFAN FINANCINDO BANDUNG Р Pertarungan hewan kadang kala memang tak bisa dinalar. Setelah katak menelan ular dan lipan raksasa memangsa ular, kali ini giliran kepiting yang menyerang seekor burung.

Sang penyerang adalah kepiting kelapa yang dikenal sebagai anomali di keluarga krustasea. Beratnya bisa mencapai sembilan kilogram dan panjangnya bisa satu meter. Selain itu, kepiting ini juga bisa memanjat pohon dan mencari kelapa untuk diolah dan dimakan.

Selain informasi di atas, tidak banyak yang diketahui oleh para peneliti mengenai makhluk bercapit ini. Pasalnya, kepiting kelapa tinggal di bawah tanah dan membentuk ruang ekologis untuk mereka sendiri di beberapa pulau di Samudera Hindia.
Laidre menyaksikan seekor kepiting kelapa menyambar seekor burung booby (angsa batu) kaki merah dewasa yang sedang tidur di atas cabang pohon rendah.

Burung tersebut lumpuh seketika, meskipun ia terus berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman capit kepiting.

Dalam 20 menit, lima kepiting kelapa lainnya berkerumun di tempat tersebut karena tertarik oleh bau darah burung booby.

Namun, rupanya penyerang pertamanya tak mau melepaskan burung yang masih bernapas itu. Ia pun menyeret burung tersebut menjauh dan selama beberapa jam kemudian, kepiting itu mencabik dan memakan burung booby tangkapannya.

“Sangat mengerikan,” kata Laidre dikutip dari National Geographic, Rabu (1/11/2017).

Kemisteriusan inilah yang mendorong Mark Laidre, seorang profesor dari Dartmout College, untuk memulai ekspedisi ke Kepulauan Chagos dan mempelajari kepiting kelapa.

Dalam ekspedisinya tersebut, Laidre berkesempatan menyaksikan para kepiting anti-sosial ini berburu dan sebuah kejutan besar terjadi pada Maret 2016.

Fenomena ini membuktikan bahwa kepiting kelapa merupakan omnivora oportunistik. Bisa jadi, inilah yang memengaruhi tempat burung-burung bersarang, tulis Laidre dalam penelitian yang diterbitkan pada Rabu (1/11/2017) di Frointers in Ecology and the Environment.

Burung dapat terbang dari satu pulau ke pulau lainnya, tetapi kepiting kelapa terjebak di pulau tempat mereka dilahirkan karena tidak dapat bernapas di bawah air.

Laidre mengamati bahwa di pulau-pulau tempatnya menemukan puluhan kepiting kelapa, tidak ada burung yang bersarang di tanah. Sebaliknya, di tempat dia menemukan sarang burung di tanah, Laidre tidak dapat mengamati kepiting apapun.

Para burung tampaknya sengaja memilih bersarang di sebuah pulau yang memiliki kepiting.

Status kepiting kelapa sendiri tidak diketahui. Daftar merah¬† International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat kepiting sebagai spesies yang “kekurangan data”. Namun, predasi oleh manusia dan kerusakan habitat diduga mengurangi jumlah mereka.

Laidre berkata bahwa kepiting kelapa mungkin menakutkan bagi hewan lain, tetapi tidak bagi manusia.

“Mereka tidak agresif, mereka hanya penasaran. Mereka tidak datang dan melompat dan mencoba menyerang Anda. Kepiting kelapa seharusnya lebih takut pada manusia,” kata Laidre.

Laidre berkata bahwa langkah selanjutnya dalam mempelajari kepiting ini adalah memasang perangkap kamera di dekat habitat mereka sehingga para ilmuwan dapat mengamati.

Tidak ada seorang pun yang secara formal pernah mempelajari liang kepiting kelapa atau melihat bagaimana mereka berkomunikasi. Kemungkinan, hewan ini besar dan kawin dalam liang tersebut.

“Ada lebih banyak informasi yang perlu kita kumpulkan, tapi mereka terlalu dingin,” kata Laidre.

sumber : sains.kompas.com

IT RFB BDG