RIFAN FINANCINDO – Bursa Wall Street Ditutup dalam Rekor

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – Bursa Wall Street Ditutup dalam Rekor Kembali, Dow Sempat Tergelincir Tajam

RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Indeks Dow Jones Industrial Average berjuang untuk tampil dalam rekor pada hari Kamis (Jumat subuh WIB), menghapus kerugian tajam di sesinya, karena Wall Street bertaruh masih banyak gain dalam earnings korporasi berikutnya.

Indeks 30 saham ini berakhir 5,44 poin lebih tinggi pada 23.163,04, dengan saham Travelers naik 2,4 persen dan merupakan kontributor terbesar kenaikan Dow. Travelers melaporkan earning per share-nya yang mengalahkan ekspektasi pasar, demikian dilansir dari CNBC (20/10).

Dow sempat jatuh 104,93 poin pada sesi terendahnya. Raksasa teknologi Apple mengalami penurunan sahamnya 2,5 persen, di tengah spekulasi rendahnya permintaan dan penurunan produksi iPhone 8. Saham tersebut juga mencatat penurunan harian terbesarnya sejak 10 Agustus.

S&P 500 juga terpantau menghapus kerugiannya untuk menutup dalam rekor di 2.562,10, didukung kenaikan 12,2 persen saham Adobe mengatasi kerugian tajam dari United Continental. Saham maskapai tersebut turun 12,1 persen.

Dow dan S&P 500 naik ke posisi penutupan setelah Politico melaporkan bahwa Presiden Donald Trump condong ke Gubernur Federal Reserve Jerome Powell untuk menjadi kepala bank sentral berikutnya. Menunjuk Powell sebagai pimpinan the Fed mewakili kelanjutan dari rezim bank sentral saat ini.

Index Nasdaq Composit, sementara itu, melemah, turun 0,3 persen menjadi 6.605,07. Facebook, Google-parent Alphabet, Netflix dan Amazon semuanya turun lebih rendah.

Hari Kamis kemarin juga menandai peringatan 30 tahun “Black Monday,” hari terburuk dalam sejarah pasar saham AS. Pada hari itu, S&P 500 anjlok 20,5 persen dan Dow turun 22,6 persen.

“Anda bisa membuat argumen bahwa kejatuhan indeks saham utama bisa terjadi lagi seperti itu, namun tingkat suku bunga tidak seperti waktu itu dan inflasi juga masih rendah,” kata Peter Cardillo, chief market economist di First Standard Financial, yang dikutip CNBC (20/10).

Ahli strategi CFRA Sam Stovall mengatakan dalam sebuah catatan minggu ini, chart harga harian S&P tahun ini terlihat “menakutkan” seperti tahun 1987, tapi itu hanya tentang kesamaan pola pasar antara saat itu dan sekarang.

Analis Vibiznews menilai bahwa penguatan lanjutan Dow Jones terakhir ini memberikan kondisi pasar yang semakin overbought, mengundang suatu koreksi pasar dapat terjadi, cepat atau lambat. Koreksi tajam yang sempat terjadi semalam boleh jadi mengindikasikan aksi ambil untung segera datang.

 

sumber : vibiznews.com

IT RFB BDG