RIFAN FINANCINDO – Harga Minyak Mentah Naik 2%

RIFAN FINANCINDO | Harga Minyak Mentah Naik 2

RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Harga minyak mentah berakhir naik lebih tinggi pada akhir perdagangan Selasa dinihari (08/11), didukung keputusan FBI yang membebaskan calon Presiden AS Hillary Clinton terhadap tuduhan penyalahgunaan email, namun keuntungan dibatasi oleh rally dolar AS dan keraguan atas pengurangan produksi yang direncanakan OPEC.

Harga minyak mentah berjangka AS juga didukung oleh penurunan mingguan dari 442.077 barel minyak di pusat pengiriman AS di Cushing, Oklahoma untuk pekan yang berakhir hingga 4 November, menurut laporan monitoring energi Genscape.

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 82 sen, atau 1,9 persen, pada $ 44,89 per barel untuk berakhir positif pertama dalam tujuh sesi.

Harga minyak mentah berjangka Brent diperdagangkan pada $ 46,10 per barel, naik 52 sen, atau 1,1 persen, dari penutupan sebelumnya.

Federal Bureau of Investigation mengatakan tidak akan mengenakan tuntutan terhadap Clinton atas penggunaan server email pribadinya. Hal ini menunjukkan prospek buruk bagi kandidat Partai Republik Donald Trump, yang sikap pada kebijakan luar negeri, perdagangan dan imigrasi telah mengkhawatirkan pasar.

Bursa Saham AS melonjak pada Senin, sehari sebelum pemilihan presiden AS, sementara dolar AS menguat di tengah berita Clinton yang memberikan prospek baik, membuat minyak mentah yang berdenominasi dollar AS lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Sekretaris Jenderal Organisasi Negara Pengekspor Minyak Mohammed Barkindo Senin menegaskan kembali komitmen kelompok untuk kesepakatan memangkas produksi yang dibuat di Algiers akhir September, yang berusaha untuk meningkatkan harga setelah dua tahun kelebihan pasokan.

OPEC juga telah menguoayakan kerjasama dari produsen non-anggota, termasuk Rusia, namun banyak analis meragukan kemampuannya untuk mengkoordinasikan pemotongan produksi untuk menyeimbangkan pasar.

Minyak berjangka membukukan persentase penurunan terbesar mingguan sejak Januari minggu lalu dengan Brent jatuh serendah $ 45,08, terlemah sejak 11 Agustus, dan WTI mencapai $ 43,57, terendah sejak 20 September

Ada juga risiko bahwa kekenyangan minyak, yang telah menguat di pasar selama lebih dari dua tahun, bisa terus mengancam pemimpin OPEC de-facto Arab Saudi untuk meningkatkan produksi.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah pada perdagangan selanjutnya berpotensi lemah dengan penguatan dollar AS. Harga diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $ 44,40 -$ 43,90, sedangkan jika harga naik akan bergerak dalam kisaran Resistance $ 45,40-$ 45,90.

IT RFB BDG