RIFAN FINANCINDO – Harga Minyak Bumi Masih Dikekang

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – Harga Minyak Bumi Masih Dikekang Dampak Badai Harvey

RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Harga minyak bumi melonjak pada hari Jumat, tetapi masih ditutup lebih rendah dibanding pembukaan di awal pekan lalu; sehingga mencatatkan rekor penurunan lima pekan berurutan. Senin pagi ini (4/September), Brent maupun West Texas Intermediate (WTI) berupaya menanjak, tetapi masih tertahan oleh ketidakpastian dampak badai Harvey yang menerjang jantung industri migas Amerika Serikat minggu lalu.

Saat berita ditulis, harga minyak WTI terpantau berada di kisaran $47.44 per barel, naik dari harga penutupan sebelumnya pada $47.29. Sementara Brent mengambang di kisaran $52.45, turun dibanding harga penutupan sebelumnya pada $52.75 per barel.

Senin Masih Tutup, Baru Beroperasi Selasa

Sekarang, seminggu telah berlalu sejak badai Harvey menerjang pesisir Texas di mana industri migas AS berpusat, termasuk 45% kapasitas pengilangan nasional. Menurut Bureau of Safety and Environmental Enforcement, sekitar 5.5% produksi minyak bumi di Teluk Meksiko masih nonaktif, atau setara dengan output 96,000 barel per hari (bph). Tak ada laporan kerusakan di platform tambang migas maupun pabrik pengilangan yang terendam banjir, meskipun sebuah pabrik kimia milik Arkema diketahui meledak pada Kamis pagi.

Menurut laporan OilPrice, sejumlah pabrik pengilangan di kawasan Corpus Christi telah kembali beroperasi, tetapi pengilangan-pengilangan besar di Houston dan Port Arthur/Lake Charles masih ditutup. Fasilitas migas milik Motiva -terbesar di Amerika Serikat- juga belum dibuka kembali, dan diperkirakan bisa tutup hingga dua pekan ke depan.

Secara keseluruhan, per Jumat, sekitar 3 juta bph kapasitas pengilangan di kawasan AS masih offline. Hari Senin ini pun diekspektasikan belum ada perubahan signifikan, sehubungan dengan libur Hari Buruh (Labor Day) dan upaya penanggulangan dampak badai Harvey yang terkendala. Namun, operasional di sebagian besar lokasi diharapkan kembali lancar per Selasa.

Lebih Parah Dibanding Katrina

Estimasi dampak finansial badai Harvey melesat dari perkiraan awal para ahli Meteorologi yang menunjuk kisaran $160 milyar. Gubernur Texas Greg Abbott menyebutkan kerugian finansial akibat Harvey bisa mencapai $180 milyar, jauh lebih tinggi dibanding Badai Katrina (New Orleans, 2005) maupun Badai Sandy (New York, 2012).

Pihak pemerintah federal telah mengajukan proposal anggaran pemulihan sebesar $7.85 milyar -hanya sebagian kecil dari total biaya yang dibutuhkan-, tetapi persetujuannya harus menunggu keputusan Kongres untuk menyepakati kenaikan debt ceiling. Di sisi lain, perkara anggaran ini merupakan salah satu isu kritis yang sudah lama menjadi bahan tarik-ulur antara Presiden Trump dan Parlemen AS, karena ia bersikeras menginginkan proposal pembangunan tembok pembatas Meksiko-AS disetujui di saat bersamaan.

Buat OPEC Frustasi

Menyusul badai Harvey, Reuters melaporkan bahwa para pejabat OPEC frustasi karena harga minyak bukannya naik tetapi justru turun. Ini berbeda dengan dampak badai-badai sebelumnya di AS, seperti badai Katrina atau Gustav, yang mendorong harga minyak bumi melonjak. Salah satu delegasi OPEC mengatakan, “Sepertinya tak ada event yang akan banyak menaikkan harga minyak.”

Narasumber anonim tersebut juga heran karena harga minyak tetap menurun meski produksi minyak Libya anjlok akibat konflik bersenjata di periode nyaris bersamaan dengan badai Harvey. Katanya, “Ini semua benar-benar aneh. Sentimen pasar sudah berubah banyak dalam 10 tahun terakhir.”

sumber : seputarforex.com

IT RFB BDG