RIFANFINANCINDO Bursa Asia Variatif Setelah Wall Street

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO Bursa Asia Variatif Setelah Wall Street Amblas, IHSG Masih Bertenaga Cetak Rekor Intraday

RIFANFINANCINDO BANDUNG | Bursa saham kawasan Asia bergerak variatif pada perdagangan Kamis pagi WIB setelah Wall Street ditutup amblas subuh tadi sementara para investor mencerna rilis laporan pendapatan para emiten regional (26/10).

Nikkei 225 naik tipis 0,37 persen pada awal perdagangan. Indeks acuan ini telah membukukan kemenangan beruntun selama 16 hari pada hari Rabu, setelah ditutup turun 0,45 persen pada level 21.707,62.

Di kawasan Selat Korea, Kospi masih flat karena investor mencerna laporan pendapatan kuartalan dari sejumlah nama blue-chip, termasuk SK Hynix, demikian rilis dari CNBC (26/10).

Di Selatan, S&P/ASX 200 turun 0,26 persen pada awal perdagangan, dengan sub-indeks keuangan terpantau turun 0,52 persen setelah ANZ melaporkan laba setahun penuhnya.

Rilis pendapatan korporasi juga menjadi sorotan pasar di kawasan ini. Beberapa nama enmiten besar ada di agenda, termasuk SK Hynix, OCBC, Hyundai Motors, NTT DoCoMo dan China Vanke.

Sementara itu, IHSG terpantau dibuka melemah di level 6.018 setelah kemarin menembus level 6.000 dan ditutup dalam rekor tertinggi pada 6.025,43. Pasar pagi ini masih bertenaga naik dan sudah mencetak level rekor intraday baru di sekitar 6.039.

IHSG berikutnya berpeluang untuk bergerak menuju resistance level 6.050 dan 6.090. Meskipun, aksi profit taking bisa menghadang sewaktu-waktu di level ini.

Euro Bergerak Naik; Dollar AS Ambil Nafas

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO BANDUNG – Euro bergerak lebih tinggi pada hari Kamis (26/10) di sesi Asia, karena investor menunggu rincian rencana Bank Sentral Eropa untuk mengurangi program stimulus pembelian obligasi, sementara dolar mundur setelah rally baru-baru ini.

Euro beringsut naik 0,1 persen menjadi $ 1,1819, setelah naik tipis dari level terendah dua minggu di $ 1,1725 yang telah ditetapkan pada hari Senin.

ECB hampir dipastikan akan mengurangi stimulus pembelian obligasi pada hari Kamis, mengambil langkah terbesarnya dalam tahun-tahun pelaksanaan kebijakan moneter longgar.

Namun karena inflasi tetap rendah, pengurangan jumlah pembelian aset bulanan diperkirakan akan datang dengan perpanjangan program yang panjang.

Namun, tampaknya ada beberapa kehati-hatian terhadap risiko bahwa pengumuman kebijakan ECB dapat memberi kenaikan bagi euro. Pasar mungkin melakukan lindung nilai atas kejutan hawkish, menurut beberapa analis.

Sementara itu, Dolar AS mengambil nafas setelah melakukan rally selama seminggu terakhir karena optimisme mengenai prospek reformasi pajak A.S., serta spekulasi bahwa ketua Federal Reserve A.S. selanjutnya dapat mengarahkan kebijakan dengan cara yang lebih hawkish.

Indeks dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama, berada di level 93.609, setelah mundur dari level tertinggi intraday hari Rabu di 94.008.

Meskipun terjadi kemunduran hari Rabu, indeks dolar telah menguat sekitar 0,6 persen dari kenaikan sepekan yang lalu, didukung oleh harapan untuk rencana pemotongan pajak dan setelah laporan bahwa ekonom Universitas Stanford John Taylor mengesankan Presiden Donald Trump dalam wawancaranya untuk kandidat teratas ketua Fed.

Taylor menyukai pendekatan berbasis aturan untuk menetapkan tingkat suku bunga dan dipandang sebagai seseorang yang mungkin menempatkan Fed di jalur kenaikan suku bunga yang lebih cepat dibandingkan dengan Ketua Fed Janet Yellen, yang masa jabatannya akan berakhir Februari mendatang.

Calon-calon lainnya untuk memimpin Fed termasuk Yellen, Gubernur Fed Jerome Powell, penasihat ekonominya Gary Cohn dan mantan Gubernur Fed Kevin Warsh.

Trump diperkirakan akan mengumumkan kandidat The Fed sebelum melakukan perjalanan ke Asia pada awal November.

Terhadap yen, dolar turun 0,1 persen menjadi 113,60 yen, turun dari level tertinggi tiga bulan di hari Rabu di 114,245 yen.

Sedikit kenaikan dalam hasil Treasury A.S. membantu meredam momentum dolar. Hasil Treasury Treasury AS 10 tahun terakhir bertahan di dekat level 2,432 persen, setelah tergelincir dari puncak tujuh bulan di hari Rabu di level 2,475 persen.

Di antara mata uang utama lainnya, sterling bertahan stabil di $ 1,3269, setelah naik 1 persen pada hari Rabu, karena data pertumbuhan Inggris yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi Bank of England akan menaikkan suku bunga minggu depan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan Euro akan bergerak naik jika keputusan ECB mengurangi program stimulus pembelian obligasi. Jika Euro naik akan menekan dolar AS.

sumber : vibiznews.com

IT RFB BDG