RIFANFINANCINDO | Bursa Asia Menguat Tipis di Awal Pekan

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO | Bursa Asia Menguat Tipis di Awal Pekan

RIFANFINANCINDO BANDUNG | Bursa Asia sedikit menguat di awal pekan ini. Sementara di pasar mata uang, pound sterling dan euro stabil sebelum dimulainya perundingan mengenai persyaratan keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Melansir laman Reuters, Senin (19/6/2017), indeks MSCI terbesar di Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2 persen pada awal perdagangan. Sementara indeks Nikkei Jepang naik 0,6 persen. Saham Australia dan KOSPI Korea Selatan, masing-masing melonjak 0,5 persen.

“Investor di kawasan Asia Pasifik menghadapi prospek yang beragam untuk memulai perdagangan,” ujar Kepala Strategi Pasar CMC Markets di Sydney Michael McCarthy dalam catatannya.

Dia mengatakan, pasar saham Eropa dan AS berakhir menguat pada pekan lalu, namun harga komoditas yang lebih rendah dan pelemahan dolar AS mungkin membebani pasar pada awal perdagangan.

Pada hari Jumat, Wall Street berakhir mixed, dengan sektor saham energi mengimbangi penurunan saham konsumen, yang dikuasai kesepakatan Amazon.com untuk membeli toko makanan Whalk Foods.

Indeks S&P 500 ditutup mendatar. Sementara Dow Jones Industrial Average berakhir 0,1 persen dan Nasdaq kehilangan 0,2 persen.

Di pasar mata uang,  pound sterling sedikit turun di US$ 1,2772 dari posisinya pada Jumat. Namun ini lebih stabil dibandingkan saat usai terjadinya insiden van menabrak pejalan kaki di dekat stasiun Finsbury Park pada Senin ini. Mata uang Euro naik sedikit ke posisi US$ 1.1204.

Sekretaris Brexit David Davis akan memulai negosiasi di Brussels pada hari ini, yang akan diikuti pertemuan puncak pada Kamis dan Jumat. Di mana Perdana Menteri Inggris Theresa May akan bertemu- namun bukan untuk bernegosiasi dengan – para pemimpin Uni Eropa.

Seiring pertemuan ini, beberapa pejabat UE percaya bahwa pada akhirnya pemerintah Mei datang ke Brussels untuk melihat bagaimana negosiasi harus berjalan.

Adapun mata uang dolar usai data perumahan AS jatuh untuk bulan ketiga di Mei ke level terendah dalam delapan bulan. Kemudian barometer sentimen konsumen AS secara tak terduga turun pada awal Juni, memicu kekhawatiran tentang rencana Federal Reserve untuk tetap melakukan pengetatan kebijakan moneternya.

Indeks dolar yang mengukur mata uangnya terhadap sekeranjang mata uang lain, tidak berubah pada posisi 97,179.

Di komoditas, minyak berjangka bertahan mendekati level terendah dalam enam minggu, karena kekhawatiran tentang kelebihan pasokan bisa terus membebani pasar.

Minyak mentah AS tergelincir 0,25 persen menjadi US$ 44,65 per barel. Sementara patokan global Brent turun 0,2 persen menjadi US$ 47,29.

sumber : bisnis.liputan6.com

IT RFB BDG