RIFANFINANCINDO | Harga Minyak Mentah Merosot 2%

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – Harga Minyak Mentah Merosot 2%

RIFANFINANCINDO BERJANGKA BANDUNG | Harga minyak mentah berjangka terlempar dari posisi tertinggi 18-bulan pada akhir perdagangan hari Rabu dinihari (04/01), terbebani oleh dolar yang lebih kuat dan kekhawatiran atas meningkatnya produksi Libya.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik ke 18 bulan tinggi $ 55,24 per barel di perdagangan pagi sebelum berlari ke volatilitas menjelang jam siang. Kontrak turun $ 1.25, menjadi 2,3%, pada $ 52,47 per barel pada 16:59 ET.

Kontrak Maret untuk harga minyak mentah berjangka Brent turun $ 1,18, atau 2,1%, untuk menetap di $ 55,65 per barel. Sebelumnya itu telah meningkat menjadi $ 58,37 per barel, tertinggi sejak pertengahan 2015.

Dolar AS yang lebih kuat menekan harga minyak mentah. Indeks Dolar AS, ukuran uang terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya, sempat naik ke level tertinggi sejak tahun 2002. Ini kemudian akan memberikan kembali keuntungan untuk menetap naik 0,3%.

Dolar AS lebih mahal mengurangi permintaan untuk aset berdenominasi dollar, seperti minyak mentah.

Pedagang juga menilai dokumen pemuatan diperoleh Bloomberg pada Selasa menunjukkan bahwa Libya berencana untuk mengekspor 1,9 juta barel minyak bulan ini dari pelabuhan di dekat ibukota Tripoli. Sebuah laporan terpisah pada hari Minggu menunjukkan bahwa Libya menaikkan produksi pada bulan Desember untuk 685.000 barel per hari dari sekitar 600.000. Negara Afrika Utara adalah salah satu dari hanya dua negara anggota OPEC dibebaskan dari pemotongan produksi.

Harga minyak telah naik dengan gelombang optimisme sejak produsen OPEC dan non-OPEC sepakat untuk mengurangi produksi minyak mentah oleh hampir 1,8 juta barel per hari. Perjanjian ini mulai berlaku 1 Januari.

Produksi dari Rusia, produsen minyak terbesar di dunia, tidak berubah pada 11.210.000 barel per hari pada bulan Desember. Moskow berencana untuk mengurangi produksi 300.000 barel per hari di kontribusinya terhadap kesepakatan global.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah akan bergerak mencermati pergerakan dollar AS, yang jika berbalik melemah setelah kemarin menguat dapat mengangkat harga minyak dan sebaliknya. Optimisme pelaksanaan pemotongan produksi OPEC dan Non OPEC juga dapat mendorong harga. Harga minyak mentah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Resistance $ 53,00 dan $ 53,50, namun jika harga turun akan bergerak dalam kisaran Support $ 52,00 dan $ 51,50.

sumber : vibiznews.com

IT RFB BDG