RIFANFINANCINDO | Harga Minyak Mentah AS Turun

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – Harga Minyak Mentah AS Turun

RIFANFINANCINDO BANDUNG | Harga minyak mentah bergerak sideways, dan minyak mentah AS berbalik negatif pada akhir perdagangan Selasa dinihari (07/03) setelah Badan Energi Internasional memperkirakan peningkatan pertumbuhan minyak serpih potensial dan penurunan permintaan produk olahan Eropa, yang menjadi pertanda buruk bagi upaya global untuk mengurangi kelebihan minyak mentah.

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate turun 13 sen atau 0,2 persen. pada $ 53,20 per barel pada 14:35 ET (1935 GMT).

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 15 sen per barel menjadi $ 56,05.

Harga minyak sebelumnya sedikit menguat setelah Menteri Perminyakan Irak mengatakan Organisasi Negara Pengekspor Minyak kemungkinan akan perlu untuk memperpanjang pemotongan produksinya ke dalam paruh kedua 2017.

Menteri Perminyakan Irak Jabbar Al-Luaibi mengatakan, pemotongan produksi kemungkinan akan perlu diperpanjang ke dalam paruh kedua 2017, menurut laporan Bloomberg. Irak siap untuk bergabung dalam upaya tersebut, menurut Bloomberg.

Irak sepakat untuk menurunkan produksinya sebesar 210.000 barel per hari di bawah kesepakatan tetapi produsen terbesar kedua OPEC awalnya berusaha untuk dibebaskan dari setiap pemotongan, mengatakan dibutuhkan pendapatan untuk melawan pemberontakan Negara Islam.

Produksi minyak serpih AS dapat tumbuh sebesar 1,4 juta barel per hari pada tahun 2022 dengan harga sekitar $ 60 per barel, IEA mengatakan dalam sebuah laporan. Lebih dari 3 juta barel per hari dari kapasitas pertumbuhan dapat dihasilkan jika harga naik sampai $ 80 per barel, kata lembaga itu. Pada saat yang sama, permintaan untuk produk olahan Eropa terlihat melemah.

Pasar telah rangebound selama lebih dari 60 hari, dibatasi oleh kekhawatiran bahwa pertumbuhan produksi AS mungkin melawan kesepakatan OPEC untuk mengurangi produksi selama semester pertama tahun ini.

Awal sesi, minyak telah mundur dengan Tiongkok menurunkan target pertumbuhan untuk tahun ini menjadi 6,5 persen, dibandingkan dengan 6,7 persen tahun lalu, dan memperketat kontrol regulasi dalam upaya untuk mengatasi pencemaran.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah akan bergerak lemah jika dollar AS lanjutkan penguatan. Demikian juga jika kekuatiran ketidakpatuhan kesepakatan pemotongan produksi dan peningakatan produksi AS terus meningkat, akan menekan harga. Harga minyak mentah berpotensi bergerak dalam kisaran Support $ 52.70-$ 52.20, dan jika harga naik akan menembus kisaran Resistance $ 53.70-$ 54.20.

sumber : vibiznews.com

IT RFB BDG