RIFANFINANCINDO | Harga Minyak Mentah Naik

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – Harga Minyak Mentah Naik

RIFANFINANCINDO BANDUNG – Harga minyak mentah menguat pada akhir perdagangan Jumat dinihari (14/07) terdorong peningkatan permintaan global mengimbangi sentimen produksi yang lebih tinggi oleh eksportir utama OPEC dalam laporan suram oleh Badan Energi Internasional.

Harga minyak mentah berjangka AS berakhir naik 59 sen atau 1,3 persen menjadi $ 46,08 per barel.

Harga minyak mentah berjangka brent naik 63 sen atau 1,3 persen menjadi $ 48,37 per barel pada pukul 2:40 sore. ET (1840 GMT).

Ada bukti permintaan minyak dunia meningkat, terutama di Amerika Serikat dan Tiongkok, dua konsumen minyak terbesar di dunia.

Tiongkok mengimpor 8.55 juta barel per hari (bpd) minyak dalam enam bulan pertama tahun ini, naik 13,8 persen pada periode yang sama tahun 2016, menjadikannya pengimpor minyak mentah terbesar di dunia mendekati Amerika Serikat.

IEA yang berbasis di Paris mengeluarkan pandangan kuat untuk permintaan minyak global, dengan konsumsi di Jerman dan Amerika Serikat meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, persediaan minyak di negara-negara industri tetap tinggi meski terjadi penurunan sederhana di bulan Mei. Pasokan negara OECD masih 266 juta barel di atas rata-rata lima tahun, kata IEA.

Badan tersebut memperingatkan pasar minyak bisa bertahan lebih lama karena kenaikan produksi dan pemangkasan produksi terbatas oleh beberapa anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak.

IEA menyatakan setiap bulan ada saja sesuatu yang muncul untuk menimbulkan keraguan tentang laju proses penyeimbangan minyak. Dalam bulan ini saja ada dua halangan, yaitu pemulihan dramatis dalam produksi minyak dari Libya dan Nigeria dan tingkat kepatuhan yang lebih rendah oleh OPEC dengan kesepakatan produksinya sendiri.

OPEC mengatakan produksinya meningkat sebesar 393.000 bph pada Juni menjadi 32,611 juta bpd, berkat tambahan produksi dari Nigeria dan Libya.

Itu terjadi meski ada sebuah janji oleh OPEC untuk mengekang produksi sekitar 1,2 juta bpd antara Januari tahun ini dan Maret 2018, sementara Rusia dan produsen non-OPEC lainnya mengatakan bahwa mereka akan menahan sekitar setengahnya.

Ketaatan OPEC terhadap pemotongan merosot menjadi 78 persen bulan lalu dari 95 persen di bulan Mei karena produksi yang lebih tinggi dari yang diijinkan dari Aljazair, Ekuador, Gabon, Irak, UEA dan Venezuela mengimbangi kepatuhan yang kuat dari Arab Saudi, Kuwait, Qatar dan Angola, IEA Kata.

OPEC mengatakan pada hari Rabu bahwa dunia hanya membutuhkan 32,2 juta bpd minyak mentah tahun depan, turun 60.000 bpd dari tahun ini dan sekitar 400.000 bpd kurang dari yang dipompa pada bulan Juni.

Harga minyak telah turun dalam beberapa pekan terakhir ke tingkat yang tidak terlihat sejak akhir tahun lalu karena investor kehilangan kepercayaan pada kesepakatan antara produsen OPEC dan non-OPEC untuk mengurangi produksi, sementara produksi minyak sampingan A.S. telah meningkat tajam.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah bergerak turun terpicu kekuatiran peningkatan produksi global. Harga minyak diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $ 45,50-$ 45,00, dan jika harga naik akan bergerak dalam kisaran Resistance $ 46,50-$ 47,00.

sumber : vibiznews.com

IT RFB BDG