RIFANFINANCINDO – Mengawetkan tubuh dengan Harapan

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – Mengawetkan tubuh dengan harapan hidup kembali

RIFANFINANCINDO BANDUNG – Ketika Zhan Wenlian meninggal, suami dan anaknya memilih untuk tidak melakukan pemakaman biasa. Sebagai gantinya, tubuh perempuan Tiongkok berumur 49 tahun tersebut dibekukan, dengan harapan teknologi masa depan dapat menghidupkannya kembali.

Zhan meninggal akibat kanker paru-paru pada 8 Mei. Dua menit setelah dia dinyatakan meninggal di Qilu Hospital Shandong University, para ilmuwan dan dokter menyuntikkan berbagai bahan kimia ke dalam tubuhnya untuk mengurangi pembekuan darah dan kerusakan otak.

Kemudian, tubuhnya dipindahkan ke laboratorium di Shandong Yinfeng Life Sciences Research Institute guna menjalani prosedur selama 55 jam. Di sini suhu tubuhnya diturunkan ke sekitar 18 derajat Celsius secara bertahap melalui teknologi perfusi minimally invasive bypass cardiopulmonary, dan kemudian diambil alih oleh sistem otomatis. Darahnya juga diganti dengan campuran bahan kimia anti-pembekuan dan pengawet.

Tubuhnya kemudian dibungkus dengan “kantong tidur” dan dimasukkan ke dalam kapsul logam. Di sini Zhan direndam dalam 2.000 liter nitrogen cair pada suhu minus 196 derajat celsius.

“Kapsul akan memantau perubahan suhu dan volume nitrogen cair. Kira-kira setiap 10 hari, staf akan menambahkan nitrogen cair,” kata Zang Chuanbao, direktur pusat penelitian tersebut.

“Secara teori, metabolisme dan aktivitas selulernya (Zhan) mengalami stagnasi. Tidak ada masalah dengan menjaga tubuhnya seperti ini selama berabad-abad. Mungkin, suatu saat dengan adanya kemajuan teknologi, dia bisa dibangkitkan.”

Lembaga penelitian berbasis di Jinan ini didirikan oleh Yinfeng Biological Group pada 2015. Cakupannya meliputi rekayasa gen, teknologi sel induk, penyimpanan sel dan organ manusia dan kebangkitan.

Proyek kolaboratif dari Yinfeng Biological Group, Qilu Hospital Shandong University, dan para konsultan dari Alcor Life Extension Foundation–perusahaan krionisasi nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat–ini termasuk dalam kategori ilmu kriogenik, sebuah praktik membekukan tubuh–atau bahkan hanya organ otak–makhluk hidup yang baru meninggal dunia dengan harapan suatu hari menghidupkannya kembali.

Menurut Yinfeng, seorang peneliti, biaya instrumen dan bahan yang digunakan dalam prosedur kriogenik sekitar 2 juta RMB (kira-kira setara Rp4 miliar). Tambahan biaya tahunan sebesar 50.000 RMB (Rp100 juta) guna pengisian cairan nitrogen dua kali dalam sebulan.

Gui Junmin, suami Zhan, tidak mengatakan berapa biaya prosedur Zhan, namun laporan tersebut mengatakan sebagian besar dana tersebut diberikan oleh Yinfeng. Lembaga ini turut mengambil sel induk dari darah Zhan, yang berpotensi guna kebangkitannya nanti atau bagi anggota keluarganya.

Zhan adalah orang Tiongkok pertama yang menjalani proses kriogenik seluruh tubuh. Pada tahun 2015, editor fiksi ilmiah Tiongkok, Du Hong, 61 tahun, meninggal karena kanker pankreas. Kemudian prosedur kriogenik dilakukan pada kepalanya yang kemudian disimpan di markas Alcor Life Extension Foundation.

Secara global, ilmuwan AS James Bedford menjadi manusia pertama yang menjalani kriogenik seluruh tubuh pada 1967. Sejauh ini sekitar 300 individu telah menyimpan seluruh tubuh, kepala, atau otak mereka di kondisi membeku dalam nitrogen cair.

Hanya ada segelintir fasilitas di penjuru dunia yang didedikasikan untuk pengembangan kriogenik, seperti Alcor yang berbasis di AS dan dan KrioRus di Rusia. Namun, pilihan seperti ini bukan tanpa kontroversi.

“Prosedurnya sudah dilakukan, tapi terlalu dini untuk menyebutnya sukses,” kata Ouyang Xilin, seorang dokter di First Affiliated Hospital of Chinese PLA General Hospital. “Kami tidak yakin dengan vitalitas organ, jaringan, dan sel,” katanya.

Hal ini juga menuai kritik, karena dikhawatirkan bertentangan dengan etiket kedokteran dan juga sistem hukum. Pasalnya, belum ada undang-undang atau peraturan tentang kriogenik di Tiongkok.

Beberapa orang khawatir bahwa jika teknologi masa depan memungkinkan keabadian, orang kaya dan orang yang memiliki kuasa dapat memonopoli manfaat dari praktik memperpanjang umur.

“Jika suatu saat di masa depan, Anda meninggal dunia tapi ibu Anda masih hidup, apa yang akan Anda lakukan?” tanya Gui pada anaknya, yang mendukung keputusan untuk membekukan ibunya.

“Saya akan memberitahu anak-anak saya mengapa kami membuat keputusan ini hari ini dan di mana nenek mereka berada sehingga mereka bisa memberi tahu anak-anak mereka,” jawab anaknya.

Gui yakin kemajuan teknologi medis suatu saat akan memungkinkan istri yang dinikahinya selama 30 tahun itu untuk bangkit. Saat dia meninggal, dia juga ingin dibekukan untuk kemungkinan mendapat kesempatan reuni.

Mereka juga mencatat apa saja yang terjadi dalam keluarga tersebut, di Tiongkok dan sekitarnya. Mereka akan menyimpan informasi tersebut di arsip institut tersebut. “Suatu hari saat dia bangun, dia bisa belajar apa yang terjadi saat dia tak ada,” kata Gui.

sumber : beritaga.id

IT RFB BDG